muslim
Oktober 5, 2006
Kalau kita baca buku, berita, website, atau apapun yang menulis tentang Islam dan kehidupan orang Islam, kita akan menemukan kata “muslim”. Kata ini adalah kata penunjuk untuk pemeluk Islam, orang Islam, penganut Islam, atau umat Islam.
ata ini adalah fa’il (kata kerja) dari kata benda Islam. Sebagai fa’il, ia bukan istilah yang mewakili lembaga, nama orang, nama tempat, atau nama buku. Ia hanya identitas biasa, seperti identitas lain. Ia hanya pengkatakerjaan dari kata benda, seperti halnya penulis, pemabok, editor, penidur, penelpon, pelacur. Bedanya, ia serapan dari bahasa Arab. Dan itu tidak menjadikan dia istimewa danmengharuskannya menyandang huruf besar. Toh, kafir, musyrik, mukmin, mursyid, munafik, hakim, katib, juga tidak.
Bedanya lagi, ia adalah pengatakerjaan dari kata yang berhuruf besar. Dan itu juga tidak harus membuat ia berhuruf besar. Toh qari, qariah (dari Qur’an), penginjil (dari Injil), tak juga berhuruf kapital.
Kesimpulannya, muslim, bukan Muslim. Dan Kamus Besar Bahasa Indonesia benar dalam hal ini.
Konsekuensinya, mestinya islamis bukan Islamis, islamisme bukan Islamisme, indonesianis bukan Indonesianis, pancasilais bukan Pancasilais.