Karena Takut kepada Tuhan

Juli 21, 2008

Oleh: Syu’bah Asa, Wartawan

KARENA takut kepada Tuhan, barangkali, kita hampir selalu menuliskan hal-hal yang berhubungan dengan tuhan dengan huruf pertama besar. Bukan hanya nama Tuhan. Tapi juga, kecenderungannya, semua yang dimengerti sebagai sifat-sifat Tuhan. Ditambah lagi, demi kebesaran Tuhan, dilakukan pembubuhan kata ’maha’. Demikianlah kita dapati ”Allah Mahabesar”. Padahal dalam ungkapan subyek-predikat seperti itu ’kan mestinya hanya Allah yang berhuruf awal besar. Sehingga, ”Allahu Akbar” mestinya ditulis ”Allahu akbar”, dan ”Tuhan Mahabesar” seharusnya ”Tuhan mahabesar”. Kecuali kalau ’akbar’, atau ’mahabesar’, menjadi sifat melekat Tuhan dalam susunan yang bukan subyek-predikat: ”rezeki yang dikurniakan Allah Mahabesar”.

Sudah tentu kata ’tuhan’ sendiri lalu tidak mengenal huruf pertama kecil. Kredo ”tiada tuhan selain Allah” hampir selalu menggunakan huruf pertama besar pada kata ’tuhan’. Ungkapan ”ya Tuhan kami” memang tidak terasa mengganggu—meskipun yang fasih sebenarnya ”ya tuhan kami”. Tapi kesulitan benar-benar muncul waktu mereka menuliskan ”tuhan Ibrahim dan Musa”.

Masalahnya, dengan huruf besar, ada kejumbuhan antara Tuhan Ibrahim dan Tuhan Musa pada orang Islam dan Tuhan Yesus pada orang Nasrani. Toh di sini orang tidak juga tunduk untuk mengecilkan huruf pertama ’tuhan’ itu—menjadi ’tuhan Ibrahim dan tuhan Musa’. Tetap saja, entah karena takut kepada Tuhan, mereka memakai huruf besar, dan sebagai jalan keluar mereka tambahkan ’nya’ di belakang ’tuhan’—menjadi ”Tuhan-nya Ibrahim dan Musa”. Jalan keluar yang jelek.

Yang terakhir itu memang kesulitan yang bisa muncul bila kita menyandarkan ’tuhan’ pada yang lain. Bacalah ayat-ayat Quran ini:

Katakan, ”Aku berlindung pada Pemelihara manusia
Raja manusia
Tuhan manusia”.

’Pemelihara’ ditulis dengan p besar sebagai pengganti ’Tuhan’. Tapi yang menjadi keberatan banyak orang Islam adalah ungkapan ”Tuhan manusia” yang ”kekristen-kristenan”. Di situlah biasanya mereka memakai nya itu—menjadi ”Tuhannya manusia”. Malah juga dari—”Tuhan dari manusia”. Padahal kesulitan bisa dipecahkan (selain dengan catatan kaki) kalau terjemahannya lebih lengkap. ”Tuhan manusia (Ilaahin naas)” bisa kita salin dengan ”Tuhan-Sesembahan (atau Tuhan sesembahan) manusia”. Sebab, ilah memang istilah untuk tuhan dari segi sesembahan. Sementara itu, salinan ”Pemelihara manusia” bisa diperjelas menjadi ”Tuhan-Pemelihara (atau Tuhan pemelihara) manusia”, dan itulah memang arti rabb—rabbin naas.

Syahdan, Tuhan adalah ”jabatan”. Namanya (atau nama-Nya) sendiri ada, pada orang Islam, yaitu ’Allah’—meskipun bagian lebih kecil penafsir Quran meyakini Allah itu hasil pengembangan al-ilah (tuhan sesembahan)—jabatan juga. Pada orang Barat nama itu tidak ada: mereka hanya mengenal god. Karena itu, Abdallah Yousuf Ali, penulis The Glorious Kur’an, menerjemahkan la ilaha illallah dengan There is no god but God.

Di Indonesia, kebesaran ”jabatan” tuhan itu diikuti oleh kebesaran jabatan presiden. Mereka menulis, ”Sebagai Presiden RI, SBY sudah membuktikan…”. Padahal mestinya ’kan ’presiden’ ditulis dengan huruf pertama kecil. Ia bukan pengganti nama diri. Bandingkan ini: ”Sebagai anak Presiden, ia…” dengan ”Sebagai anak presiden, ia…”. Yang pertama berarti putra SBY. Yang kedua anak presiden yang mana saja.

Ketakutan kepada jabatan presiden (setelah jabatan tuhan) itu dibuktikan oleh penolakan kita untuk menuliskan ’mantan presiden’ dengan m besar pada ’mantan’—jadi ’Mantan Presiden’. Mantan presiden memang tidak menakutkan. Padahal, dalam contoh berikut pembesaran huruf pertama ’mantan’ itu mutlak adanya: ”Kita tahu, Mantan Presiden Soeharto adalah mantan presiden Megawati dan mantan presiden Gus Dur”. Dengan penolakan pemakaian huruf besar pada ’mantan’ yang pertama, sebaliknya memakai huruf kecil untuk semua, juga ’mantan presiden Soeharto’, keseluruhan kalimat itu jadi sungguh membingungkan. Silakan cek. Bagaimana bila p pada Presiden Soeharto saja yang besar? Begitu, memang, kebiasaannya. Tapi coba direnungkan. Presiden Soeharto adalah orang. Jadi mantan Presiden Soeharto adalah mantan orang—misalnya, jenazah.

Ini sekaligus melahirkan pertanyaan, mengapa kita tidak selalu menuliskan nama jabatan (formal maupun tidak) seseorang di depan namanya dengan huruf besar. Misalnya, ”Yang sudah datang adalah Ustadz Mahmud, Artis Dwiki, dan Petinju Soleh”. Mengapa tidak? Padahal, dengan menulis semua ”jabatan” (atau identitas) itu dengan huruf pertama kecil, kejumbuhan sungguh merajalela. Misalnya, ”Saya tidak tahu apakah pengacara Kaligis yang menjadi pengacara Probosutedjo”. Harusnya, ’kan, ’pengacara Kaligis’ ditulis dengan p besar pada ’pengacara’-nya. Mengapa tidak?

Sumber: Majalah Tempo Edisi. 22/XXXVII/21 – 27 Juli 2008

5 Tanggapan to “Karena Takut kepada Tuhan”

  1. Maxgrosir Says:

    mungkin karena ingin cepat menulisnya gan, he


  2. makacihhh artikelnya gan…..


  3. gan ane mau ngeshare artikelnya, boleh gak ?


  4. nais inpoohh gan,, langsung dishare ahh


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: